Kesibukan di gedung megah sekolah, di Tengah sawah sedang cuti. Tiap santri di sana menikmati liburan di rumah. Momen paling menyenangkan selama sepekan melepas jenuh dari segala beban Pelajaran.
Tring!!
Sebuah chat pemberitahuan di grup wa, menghancurkan kekhusyukkan anak-anak layar hp, pesan menebarkan, grup paling penting santri di wa dikirim oleh pengurus asrama sempat membuat jantung mereka berdebar. Siapa cepat telunjuk menekan notifikasi wathsapp, takut ketinggalan berita, diiringi ketakutan balik pondok di percepat mengisi kepala mereka aplikasi itu menampilkan teks terdiri atas tiga baris berbunyi seperti ini.
Kepada seluruh santri IBS PKMKK!
Di harapkan datang ke lobi sekolah sehabis melaksanakan shalat Maghrib.
Pak pendi akan memberikan pembekalan persiapan pramuka.
Fyuh. Merek menghembuskan napas lega. Tak ada santri rela meninggalkan rumah, kala rindu masih membendung. Sore itu, mau tidak mau semua santri harus datang harus datang ke Padepokan seusai melaksanakan shalat maghrib di rumah. Buku kosong serta alat tulis lainnya di masukkan ke dalam tas. Berangkatlah mereka pergi ke lobi pertemuan. Disana Pak Pendi telah menyapa. Beliau langsung memaparkan point penting diadakannya pertemuan mendadak itu. Terdengar suara sebelum isya’ berkumandang pertemuan itu pun dibubarkan.
Pak Pendi juga berpesan simpan energi untuk tiga hari kedepan. Karena seluruh energi pasti akan dikuras pada kegiatan perkemahan. Maka besok hari setelah diadakannya pertemuan itu, seluruh santri beranggotakan sepuluh orang pergi ke pasar, toko menyiapkan barang-barang serta perlengkapan perkemahan.
Tibalah hari itu. Senin pagi sekitar jam setengah enam belum ada tanda-tanda kesibukan memenuhi halaman sekolah mereka. Beruntung sekali perkemahan pertama para santri di adakan di sekitar sekolah. Jam tujuh kurang lima menit siswa-siswi MTsN 3 pamekasan sudah mengerumuni halaman sekolah IBS PKMKK. Jam sembilan mereka disuruh untuk memasang tenda. Matahari persis berada di tengah kepala, seluruh peserta kemah melakukan upacara pembukaan.
Hari pertama berjalan lancar. Para Pembina mengajak seluruh peserta bermain dan belajar seputar Sejarah pramuka. Sore hari setelah ishoma mereka diajak melakukan ice breaking dengan teman borgol cinta. Dalam permainan ice breaking tersebut terdiri dari 2 orang anak perwakilan dari satu regu. Dan cara permainannya adalah bagaimana caranya untuk bisa membebaskan borgol yang mengunci kedua tangan dari 2 anak tersebut. Yang membuat keduanya tidak bisa pergi jauh dari teman satunya.
Tetapi, borgol tersebut tidak boleh diputuskan secara paksa. Dan harus melepaskannya dengan tetap terikat di tangan satu anak. Karena, borgol itu hanya mengikat kedua orang supaya mereka tidak pergi berjauhan. Dan Ketika teka-teki melepaskan borgol cinta tersebut terselesaikan. Barulah kedua orang tersebut bisa berpisah.
Hari kedua diadakan lomba untuk menguji kekompakan tim. Mulai dari sarung estafet, tiup balon, memasukkan paku ke dalam botol, dan banyak lagi lainnya. Malamnya seluruh peserta digiring menuju sabana untuk menyalakan api unggun. Dua santri harus berlari-lari mengambil obor mereka karena kakak pembinanya kekurangan obor. Kesana kemari tiada henti, mengucur deras keringat dari dua santri itu. Setelah mereka mendapatkan minyak secara susah payah, bergegaslah mereka menuju tempat diadakannya baskara di sabana. Begitulah julukan yang diberikan oleh sepuluh santri itu, karena ibarat matahari bersinar ditengah-tengah padang rumput.
Esok hari usai sudah semua jerih payah mereka. Setelah pembongkaran tenda, diadakan upacara perpisahan. Beruntung sekali para santri yang belum pernah ikut pramuka mendapatkan hadiah paling banyak. Kejadian tiga hari itu tidak akan pernah mereka lupakan. Bersama-sama melalui berbagai macam rintangan lika-liku pramuka.
Penulis: Naurah, Aya, Rara dan Lina