082333777752    padepokankmudrikah@gmail.com

Sejarah

    

  1. Asal Usul Nama Padepokan Kyai Mudrikah Kembang Kuning

        Berdasarkan salah satu sumber sejarah. sulu Kembang Kuning dikuasai oleh seorang ratu yang bernama Dewi Lestari. Ratu Kembang Kuning ini terkenal memiliki ilmu kesaktian yang tinggi. Kesaktian itu digunakan untuk melindungi dan mejaga wilayahnya.

        Suatu hari terjadi sebuah peristiwa, dimana sang ratu terlibat adu kesaktian dengan seorang Kyai bernama kyai Mahal. Kedua orang ini terkenal dengan kedigdayaannya. Pertempuran adu ilmu ini tidak dapat dihindarkan. Akhirnya sang ratu harus meninggalkan Kembang Kuning karena kalah atas kesaktian oleh Kyai Mahal. Kembang Kuning jatuh dalam kekuasaan kyai Mahal. Meskipun begitu situs makam Dewi Lestari hingga kini masih terawat dengan baik oleh masyarakat. Lokasinya ada di tengah-tengah persawahan. Untuk mengetahui makam Ratu Dewi Lestari ini silahkan kunjungi Islamic Boarding School Padepokan Kyai Mudrikah Kembang Kuning.

        Kyai Mahal memiliki seorang istri bernama Nyai Pote putri dari K.Hunain bin Raden Sumber Anyar. Pernikahan keduanya tak kunjung dikaruniai anak. Saat dia sudah mulai tua, ia berpesan kepada keponakannya yaitu K. Ismail untuk menikahi istrinya. Setelah dia meninggal, K. Ismail memenuhi wasiat dari pamannya tersebut. Pernikahan K. Ismail dengan Nyai Pote dikaruniai 5 orang anak yaitu: K. Tuya H. Tijani Kembang Kuning, K. Kolpoh Kaduara Barat, K. Mustofa Kembang Kuning, K. Panggung / K. Mudrikah Galis, dan Ny. Nursari H. Hatija.

        Kyai Ismail terkenal kealimannya. Tak heran jika ia memiliki banyak santri. Para santri ini dikemudian hari menjadi ulama’ yang bepengaruh di berbagai tempat. Pengaruh kealiman mereka masih ada sampai saat ini. Sementara penyematan nama kyai Mudrikah, dikarenakan pendiri Dr. KH. Achmad Muhlis, MA merupakan satu-satunya yang memiliki jalur keturunan yang sah dari kyai Mudrikah yang ada di Kembang Kuning desa Lancar.          

        Saat ini makam kyai Mudrikah ada di Panggung Kecamatan Galis, Pamekasan. Untuk mengenang dan mendoakannya, setiap waktu diadakan haul di padepokan. Atas semua ikhtiar dan doa, besar harapan bahwa Padepokan Kyai Mudrikah akan berkembang dan dapat menjadi salah satu lembaga pendidikan yang melahirkan generasi unggul di masa depan. Mereka akan tersebar di seluruh bumi Allah SWT dengan menguasai berbagai macam ilmu, terutama ilmu tajwid dan tahfid, munaqosah tajwid al-Qur’an, dan multimedia, serta memiliki keterampilan atau life skill yang bagus.     

 

  1. Kajian Teoritis tentang Padepokan

    Penisbatan nama padepokan dalam lembaga Pendidikan ini merujuk pada peristiwa pertempuran antara Dewi Lestari, penguasa Kembang Kuning dengan Kyai Mahal.  Dalam penelusuran sejarah tentang padepokan ada beberapa teori yang muncul: Pertama, istilah padepokan itu bisa ditemui di buku Babad Tanah Jawa, yang berarti tempat dimana para murid diajarkan ilmu kanuragan atau bela diri. Kata padepokan sendiri secara bahasa berasal dari deprok, ndoprok yang memiliki padanan makna duduk.

    Kedua, istilah padepokan, diambil dari bahasa Sunda yang berarti pertapaan, merujuk Depok sebagai tempat pertapaan. Depok ditafsirkan pula sebagai Daerah Pemukiman Orang Kota.

    Ketiga, penelusuran istilah padepokan ini berarti asrama sekaligus sekolah yang menjadi yang menyelenggarakan suatu kegiatan belajar dan mengajar berbagai macam ilmu. Berdasarkan diskusi dengan pakar sejarah jejak penggunaan nama padepokan itu merujuk pada tempat yang pernah dibangun oleh Maulana Ishaq, ayah sunan Giri, di gunung Wilis. Di desa Ngliman Kecamatan Ngetos Kabupaten nganjuk di salah satu puncak bukitnya terdapatlah reruntuhan candi yang dikenal dengan candi Condro Geni. Situs ini terlacak pada masa kerajaan Singosari pada kisaran abad 13 Masehi. Jarak pendakian antara desa Ngliman dengan candi tersebut sekitar 500 meter.

    Pada salah satu sisi gunung yang berhadapan dengan candi terdapat sebuah runtuhan bangunan yang kemudian dikenal dengan padepokan Maulana Ishaq. Sampai saat ini tidak jauh dari area pegunungan ini ada makam atau petilasan yang diyakini berkaitan Maulana Ishaq. Jarak pendakian antara desa Ngliman dengan situs Padepokan ini kurang lebih 900 meter.

    Berdasarkan cerita Babad Jawa pada zaman itu terdapat banyak padepokan yang tersebar di pulau jawa dan sekitarnya. Padepokan itu bukan hanya bermakna tempat depok/duduk saja. Tetapi lebih dalam lagi padepokan itu berarti: pertama, tempat orang bertapa atau patapan yaitu tempat orang melakukan tarak, menahan hawa nafsu, berpantang, mengasingkan diri dari keramaian dunia dengan menahan hawa nafsu (makan, minum, tidur, birahi) untuk mencari ketenangan batin. Kedua, tempat tinggal/tempat mukim. Hal ini merujuk kepada pemaknaan kata سكن  . Ketiga, tempat belajar berbagai macam ilmu pengetahuan termasuk juga ilmu kanuragan, pencak silat, dan kekebalan. Keempat, tempat belajar ketrampilan hidup atau life skill.

    Padepokan itu bukan hanya sekedar sekolah berasrama. Tapi yang membedakannya dengan model pendidikan pesantren dan madrasah yaitu padepokan merupakan tempat belajar (akademi) dalam meningkatkan  keterampilan hidup setelah jenjang masa usia belajar di sekolah atau post graduate vocational collage. Setiap padepokan memiliki ciri keterampilan hidup yang akan dikembangkan kepada para muridnya. Sehingga dengan keterampilan yang dimiliki tersebut setelah kembali kepada masyarakat akan mampu menjadi seorang ahli, misalnya ahli besi, ahli baja, ahli ikan, ahli batik dan lain sebagainya.

    Dengan pemaparan di atas jelas bahwa penetapan nama Padepokan Kyai Mudrikah Kembang Kuning tidak identik identik dengan pembelajaran ilmu-ilmu kanuragan dan kedigdayaan. Tapi lebih merujuk kepada tempat belajar berbagai ilmu pengetahuan yang memberikan bekal bagi para santri dalam menjalani kehidupannya kelak di masyarakat. Jadi bukan melekat pada makna kanuragan dan kesaktian saja, meskipun para santri telah dibekali dengan keterampilan pencak silat. Tapi mereka juga terus belajar menghafal al-Qur’an sebagai basis dari hadirnya Padepokan Kyai Mudrikah Kembang Kuning. Semua santri terbiasa menghafal al-Qur’an.