Etika Menawan Santri IBS di Padepokan Kyai Mudrikah Kembang Kuning
Pamekasan- Pernahkah Anda menyaksikan cara bersalaman yang dilakukan dengan tiga sentuhan penuh makna? Di IBS PKMKK, inilah salah satu identitas santri yang mencerminkan kedalaman ajaran mereka. Cara bersalaman khas santri IBS PKMKK ini dapat dibaca di link https://s.id/1SpZ3 Namun, itu hanyalah permulaan dari rangkaian etika menarik yang mereka pelajari.
Bayangkan saat sebuah majelis berlangsung, dan di sana hadir Dewan Pengasuh, Ustadz atau Ustadzah. Santri yang mendekati mereka tidak hanya berjalan seperti biasa, tapi menggunakan lutut. Gestur sederhana ini bukanlah sekadar ritual, tapi simbol tawadhu atau kerendahan hati kepada guru yang memberikan cahaya ilmu.
Guru di sini, bukan sekadar pengajar, namun representasi ilmu dan hikmah. Sebagai santri, rasa hormat adalah harga mutlak—tanpa melihat jabatan atau kekayaan. Dalam kebersamaan ini, ada prinsip bahwa guru dan santri berada pada level yang sejajar. Etika ini bukan hanya sekadar norma, namun penanaman karakter yang mendalam tentang rasa hormat, ketaatan, dan cinta pada ilmu.
Ketika seorang Ustadz atau Ustadzah melintas di depan mata, santri akan menghentikan langkah, menghadap dengan sepenuh hati sambil menundukkan kepala. Ini bukan hanya gestur, melainkan ungkapan terima kasih dan penghormatan kepada pendidik mereka.
Mengapa semua ini penting? Karena bagi masyarakat luas, santri bukan sekadar pelajar biasa. Mereka adalah perwujudan nilai-nilai luhur yang diajarkan oleh Rasulullah. Ajaran-ajaran ini tidak hanya dipahami, namun diinternalisasi dan diwujudkan dalam perilaku sehari-hari. Ketika nantinya mereka kembali ke tengah masyarakat, harapannya mereka bukan hanya membawa ilmu, tapi juga jiwa pengabdian dan ketulusan hati untuk melayani masyarakat, sembari menghamba kepada Allah SWT, Sang Pencipta.
Penulis
Heni Listiana