Assalamuala’ikum Wr. Wb.
Di kesempatan ini, saya akan berbagi tentang momen-momen pertama saya di IBS PKMKK.
Keputusan saya untuk bersekolah di sini sebagian besar didasari oleh saran orang tua saya yang mengatakan bahwa fasilitas di IBS PKMKK sangat memadai. Selain itu, ada keinginan pribadi saya untuk menempuh pendidikan di sini. Saya berambisi untuk menghafal al-Qur’an, memahami multimedia, serta memperdalam kitab-kitab yang diajarkan.
Sehari-hari di asrama, saya biasanya tidur pukul 22:00 Wib dan bangun pada pukul 03:30 Wib untuk persiapan tahajjud. Namun, terkadang saya harus mengantri saat ingin menggunakan kamar mandi. Setelah sholat tahajjud, saya kembali ke asrama untuk beres-beres dan selanjutnya melakukan sholat subuh berjamaah. Saya juga rutin mengaji setiap pagi, kemudian bersiap untuk belajar kitab al-fatih di IBS PKMKK.
Dalam kehidupan sehari-hari, ada berbagai aktivitas yang saya lakukan, mulai dari piket, shalat duha, hingga sekolah. Saat pulang sekolah, saya biasanya mencuci pakaian dan melakukan kegiatan ibadah lainnya. Ini adalah gambaran hidup saya sebagai santri di IBS PKMKK, sebuah Islamic boarding school di Padepokan Kyai Mudrikah Kembang Kuning.
MOMEN BAHAGIA
Beberapa kegiatan positif yang saya nikmati sebagai santri termasuk al-banjari, multimedia, silat, dan tajwid. Salah satu momen yang paling berkesan adalah ketika saya tertidur saat berdzikir setelah sholat subuh. Tentu saja, kegiatan-kegiatan tersebut memberikan banyak manfaat, seperti memperbaiki bacaan al-Qur’an melalui tajwid dan pemahaman kitab-kitab kuning. Meskipun saya berusaha mendisiplinkan diri dalam ibadah, terkadang saya masih terlambat satu rakaat.
MOMEN SEDIH
Salah satu tantangan yang saya alami saat pertama kali di IBS PKMKK adalah kerinduan yang mendalam kepada keluarga. Seringkali, saya ingin menangis, namun saya tahan agar tidak terlihat lemah di depan teman-teman. Meski begitu, setiap kali bertemu dengan keluarga, hati saya selalu merasa lega.
Saya memiliki harapan besar untuk masa depan, yakni ingin membuat orangtua saya bangga. Selain hafal al-Qur’an, saya juga bercita-cita menjadi guru atau marsheller, sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat dan orangtua.
Wassalamuala’ikum Wr. Wb.
Penulis: Devi Aprilia Putri
Berita Terkait
"Mata Air Lanamu"
"Mata Air Lanamu" Qonitatul Maghfiroh Desa Lanamu, sebuah desa yang tersembunyi di balik lebatnya hutan hijau, adalah tempat yang memancarkan ketenang...
Baca selengkapnyaRamadhan Kenangan
Ramadhan Kenangan Riza Firnanda (Kelas 8) Bulan Ramadhan selalu membawa nuansa magis tersendiri. Bulan yang penuh berkah, di mana langit seolah turun...
Baca selengkapnyaCINTA DAN KASIH SAYANG AYAHKU
Ayah adalah laki-laki pertama yang aku cintai. Andaikan kalian tahu, pengorbanan seorang ayah itu sangat besar dalam mencari nafkah. Pasti kalian tida...
Baca selengkapnya